19 Februari 2008

Marfa My Little Barbie #1




Lahir di era reformasi. Tepatnya tanggal 28 Januari 2001. Namanya MARFA AULLY. Nama yang cantik, unik dan futuristik. Apabila ditambah gelar akademis apapun di depan atau di belakangnya akan menjadi nama yang sangat elitis dan disegani. Nama yang belum pernah ada sebelumnya namun akan menjadi “the most wanted name” di masa depan. Boleh di-search di Google atau search angine manapun, tak akan ditemui nama secantik Marfa Aully.

“Marfa” adalah perpaduan nama nenek-neneknya yaitu Marini dan Fadillah. Perpaduan dua karakter yang sama-sama kuat dan luar biasa. Kesabaran dan ketabahan seorang ibu yang berpadu dengan kesholihahan dan keteguhan seorang pendidik. Perpaduan antara dua kualitas intelektual yang sangat prima. Perpaduan antara dua kemolekan hati dan kejernihan pikiran. Kata Marfa sendiri mengandung arti orang yang tinggi derajatnya. Ditambah dengan kata Aully yang diambil dari kata Aulia, semakin mempertebal karakter seorang perempuan yang bermoral dan berakhlak mulia. Kira-kira begitulah harapan kedua ortu dan kakak-kakaknya.

Pantatnya padat dan membal, perutnya bulat, matanya juga bulat. Kalau berbicara, matanya berbinar-binar, seperti melihat setiap apa yang dilihat adalah sesuatu yang indah dan mengagumkan. Dimatanya ada taman syurga yang indah dengan pelangi dan bunga-bunga warna-warni. Dia adalah keajaiban dunia yang ke-delapan. Miniatur keindahan dunia yang terwujud dalam sesosok mungil, lucu dan menggemaskan. Refleksi keindahan surgawi yang bening, bersih dan murni.

Dia adalah bidadari kecil yang setiap pagi bisa menjelma menjadi apa saja yang dia suka. Kadang menjadi kupu-kupu yang indah, kadang kala menjadi burung kecil yang lincah atau setangkai bunga di taman, pelangi di langit senja atau bintang di langit bahkan menjadi matahari pagi yang hangat menyinari bumi. Tetapi yang paling dia sukai adalah menjadi Barbie. Barbie dengan warna pinknya adalah larutan kimia yang menyelimuti seluruh partikel otaknya. Semua VCD animasi Barbie dia punya. Keindahan ballet dan komposisi Tchaikovsky dalam Barbie and The Swan Lake telah merasuki jiwa dan alam pikirannya. Belum lagi Rapunzel, Nut Crackers, Island Princess, Mermaidia, Fairytopia, semuanya hafal jalan ceritanya bahkan hafal setiap musik soundtracknya. Setiap gerak dan tingkahnya adalah Barbie. Berjalannya adalah Barbie, Bicaranya adalah Barbie, Senyumnya adalah Barbie. bahhkan mungkin nafasnyapun adalah Barbie. Geliat tubuhnya ketika bangun tidurpun berupa liukan ballet ala Odette. Berjalan, berputar, berlari dan melenggang lenggok adalah gerakan Raspunzel, Clara, Putri Rosella, Elina dan Enelise. Barbie adalah atmosfernya.

Cita-citanya ingin menjadi Suster. Cita-cita ini tidak dapat diganggu gugat. Suster, baginya adalah dewi penolong tiada tanding tiada banding. Suster adalah sosok manusia yang baik dan lembut hati. Yang merawat dengan sabar manakala dia opname di rumah sakit. Suster yang memandikan. Suster yang menyuapi. Suster yang mengganti pakaiannya. Suster yang mengobati. Suster is the best. Dokter spesialis sehebat apapun, tetap saja hanya sesekali saja memeriksa pasien. Tidak ada apa-apanya dibanding Suster. Dokter masih minta tolong sama Suster. Mau ngasih obat, minta tolong Suster. Mau pasang infus minta tolong Suster. Mau periksa suhu badan, minta tolong Suster. Susterlah yang menolong Dokter. Jadi Suster menolong siapa saja termasuk Dokter. Suatu logika berpikir yang lucu tapi mengandung kebenaran. Logika berfikir khas Marfa.

Namun belakangan ini entah kenapa cita-citanya berubah. Akhir-akhir ini rupanya dia kesengsem sama seorang gadis cantik penunggang kuda. Ya. Dia bercita-cita menjadi joki olah raga berkuda. Cita-cita yang perlu dilestarikan karena lumayan langka. Alasan-alasan yang dikemukakan cukup make sense bahkan hebat menurut anak seusia dia, namun tetap saja mengundang tawa. Cita-cita yang sudah jauh melampaui jalan pikiran teman-temannya yang masih punya cita-cita ingin menjadi Mickey Mouse, Spiderman atau Superman.

Tidak ada komentar:

DUH.... AKU LUPA RINDUKU TERGURAT DIMANA

Ku guratkan rinduku pada setangkai bunga Lalu kubiarkan saja disitu di taman sunyiku Mekar semerbak harum kuntum demi kuntum Masih saja k...