13 November 2009

SAYEMBARA GAJAH



SAYEMBARA GAJAH

Adalah sebuah negeri bernama negeri Gajah Putih sangat terkenal dengan gajah-gajahnya. Rajanya bernama Gajah Duduk. Nama aslinya sebetulnya bukan Gajah Duduk tetapi Raden Mas Gajah Ningrat Cakramenggala Suryapati Adikusumodewo Wiwohorekso. Tetapi berhubung namanya terlalu panjang dan karena sang raja ini amat menyukai ke”duduk”annya, bahkan sampai-sampai kursi tempat duduknya pun di kawal oleh prajurit khusus agar tidak direbut oleh lawan politiknya, maka beliau mendapat sebutan Raja Gajah Duduk.


Dan patihnya...... (**bukan Gajah Mada pastinya. Soalnya Gajah Mada itu patih Majapahit). Patih negeri ini bernama Gajah Oling. Beda lagi dengan Sang Raja Gajah Duduk. Beliau ini adalah seorang narsis kronis dan autis akut yang tak terkirakan. Sebelum jadi Patih, beliau ini adalah seorang preman pasar yang cukup disegani. Nama asli pada awalnya tidak memakai Gajah didepannya. Karena keluar peraturan pemerintah yang mengharuskan setiap penduduk negeri memakai nama depan Gajah, maka diambilnya saja nama itu di jalanan yang tertulis di truk-truk yang lalulalang setiap hari tanpa dia sendiri tahu apa artinya. Nama asli pemberian orang tuanya adalah ”Celeret Gombel” nama reptil sejenis kadal terbang yang suka nemplok di pohon dan suka mengeluarkan bendera berwarna kuning dari lehernya. Akhir-akhir ini jenis binatang ini sedang bergembira ria karena merasa mempunyai banyak teman yang senyumnya nemplok di pohon-pohon. Dia mengira satu species dengan dirinya. Padahal itu foto para caleg. Kesian ya.. si Celeret Gombel itu..., belum-belum sudah tertipu sama senyuman palsu.


Penting gak sih? Kayaknya gak penting banget nyeritain Raja Gajah Duduk dan Patih Gajah Oling, apalagi ngomongin binatang sebangsa kadal. Plot cerita ini bukan tentang negeri Gajah Putih tetapi tentang sayembara gajah. Menceritakan Raja Gajah Duduk dan Patih Gajah Oling adalah semata-mata karena cerita ini berada di wilayah kekuasaannya.


Negeri Gajah Putih amat sangat terkenal dengan gajah-gajahnya. Ketrampilan gajah-gajah di negeri sudah tersohor ke seantero jagat raya. Mereka amat terlatih. Bisa melakukan apa saja menuruti perintah tuannya. Mereka bisa melakukan pekerjaan-pekerjaan untuk membantu aktifitas kehidupan warga Gajah Putih, seperti mengangkut kayu, menarik gerobak, mengolah tanah, menanak nasi, mencuci piring dan mengasuh bayi...(**hiperbol mode.).
Dalam seni pertunjukanpun, kemampuan mereka tiada tanding tiada banding. Di sirkus-sirkus para gajah ini mampu melakukan atraksi-atraksi yang menakjubkan. Mereka bisa bermain sepak bola, melompat lingkaran api, sepeda roda satu, menari, berolah raga, senam kesegaran jasmani, main musik. Mereka bisa menulis, menggambar dan mewarnai. Berhitung tambah kurang kali bagi bahkan ada loh yang bisa ngerjain soal-soal matematika seperti limit, deret, diferensial, integral, persamaan garis... wah wahwah... keterlaluan (**keterlaluan ngawurnya!).

Sekalian aja deh... ada juga yang mencoba ngedaftar ikut OSN (Olimpiade Sains Nasional)..
Trus diterima?
Ya nggak laah...
mereka kan gajaaah...


Nah.. suatu hari, gajah kerajaan yang paling terkenal dan dikeramatkan tiba-tiba ngambek. Gajah itu diberi nama Kyai Beleduk, adalah gajah kerajaan yang menjadi simbol negara Gajah Putih. Kemampuan, keahlian dan kesaktiannya sangat terkenal ke pelosok negeri. Berbagai medali dan penghargaan telah banyak dia terima, dari berbagai perlombaan dan ajang kompetisi baik tingkat nasional maupun internasional. Tapi apa daya, telah ber-hari-hari Kyai Beleduk ngambek tidak mau melakukan apapun juga kecuali tidur-tiduran di kandangnya. Raja Gajah Duduk cemas memikirkan kelakuan gajah kesayangannya itu. Mendung menyelimuti bumi Gajah Putih. Seluruh negeri berduka. (** kalimat seperti ini biasanya ada di buku-buku cerita silat jaman dulu) Segala daya dan upaya diusahakan. Seluruh tabib, paranormal, dokter, psikiater dan pawang gajah kerajaan telah berusaha untuk mengobati penyakit Kyai Beleduk ini tetapi usaha itu sia-sia belaka.


Maka Raja Gajah Dudukpun memanggil seluruh aparat negeri, Patih, hulubalang, punggawa, para menteri, para panglima dan para anggota dewan semua berkumpul di Balai Pasewakan Agung istana negara. Para wartawan media cetak maupun media elektronik dari dalam dan luar negeri telah sejak subuh menunggu dengan gelisah di teras istana negara siap meliput acara yang tak biasa ini.


Setelah semua tamu undangan berkumpul, mengambil snack dan mengisi daftar hadir, bersabdalah Sang Sri Baginda Maharaja Gajah Duduk kepada para hadirin sekalian :

”Hai people..!!! (oops.. maksudnya ”Hai.. para pejabat negara..!!!), sebarkanlah dan beritakanlah kepada seluruh penduduk negeri. Aku akan mengadakan sayembara !!. Barang siapa bisa membuat gajah kerajaan Kyai Beleduk menari dan melompat-lompat...!! Maka akan aku beri hadiah.... kalau laki-laki akan aku kawinkan dengan putriku Raden Ayu Dewi Gajah Bulanawati.. kalau perempuan akan aku kawinkan dengan putra mahkotaku Pangeran Raden Haryo Gajah Abuh...!!!”

”Ehm... mohon ma’af paduka Baginda...” tiba-tiba terdengar suara Patih Gajah Oling menginterupsi. ” Menurut hamba... hare geenee... sudah tidak jamannya lagi memberi hadiah dengan mengawinkan putra putri raja... kerenan dikit dong Baginda...!!”

”Hai.. paman Patih..!! katakanlah apa usulanmu..??” tanya Baginda.

”Begini Baginda... apa tidak sebaiknya hadiah itu berupa paket wisata keliling Eropa plus sebuah sedan Jaguar keluaran terbaru...”

”Interupsi Baginda..!!” tiba-tiba Panglima Perang Jendral Gajah Mabuk mengangkat tangannya ”Hamba usul, bagaimana kalau hadiahnya berupa paket wisata keliling lapangan lima puluh kali...!!”

Huuuu...... serentak terdengar gerutu seisi ruangan. Yaa..Gitu deh. Namanya juga tentara.
Dari deretan kursi belakang, Menteri Keuangan Dr. Gajah Pelit SE, MBA angkat bicara :

”Mohon ampun Yang Mulia..” (*padahal apa salah dan dosanya, belum-belum udah mohon ampun). ”Menurut hemat hamba..., hadiah paket wisata dan mobil mewah terlalu mahal Baginda... hamba khawatir pemenangnya nanti tidak mampu membayar pajak hadiah dan pungutan lainnya Yang Mulia...”.

”Terus apa usulanmu wahai Menteri?” Baginda Raja tidak sabar.

”Menurut hemat hamba.... hadiahnya adalah sebuah gelas cantik dan voucher belanja di supermarket senilai lima ratus ribu rupiah, syarat dan ketentuan berlaku..” usul Menteri dengan penuh perhitungan.

Dari namanya saja sudah tampak betapa pelitnya dia, maka tidak mengherankan kalau setiap berbicara selalu dimulai dengan ”Menurut hemat hamba......”


Sri Baginda Maharaja berjalan mondar-mandir sambil berpikir keras. (suatu perbuatan yang amat sangat jarang dilakukan oleh Baginda dan juga para pejabat negara). Sesekali kepalanya tertunduk, sesekali tengadah, sesekali pula menengok kekiri, sesekali menoleh ke kanan... Lama-lama kedua tangannya di pinggang, maka... jadilah senam SKJ. Halaah......


”Eureka!!! Aku telah menemukannya!!” tiba-tiba Baginda berteriak sambil melompat-lompat kegirangan. Matanya berbinar-binar, pipinya bersemu kemerahan bagaikan pipi seorang gadis dusun yang tersipu malu karena tengah dipinang perjaka kekasih hatinya.

”Ampun Baginda.. ” ucap Mahapatih Gajah Oling lirih ”mm.. tapi eureka itu sudah jadi teriakan milik Archimedes waktu dia keluar dari bak mandi lari-lari telanjang ke jalanan karena menemukan hukum fisika air yang kemudian terkenal sebagai hukum Archimedes”

”Ooh.. ma’af paman Patih... Aku tidak tahu tentang Archimedes, karena waktu pelajaran itu aku tidak masuk, aku waktu itu ijin sakit perut..”


”Hai.. para pejabat negara! seperti telah aku katakan tadi.. aku menemukan jawabanya.. Maka dengarkanlah wahai seluruh pembesar negeri ini...!! Hadiah bagi pemenang sayembara gajah adalaaahh......”



”Hadiah bagi pemenang sayembara gajah adalaaah... kalau laki-laki akan aku kawinkan dengan putriku.. kalau dia perempuan akan aku kawinkan dengan putra mahkotaku...!!”
Baginda Raja melompat-lompat kegirangan karena merasa telah membuat sebuah keputusan yang sangat bijaksana, cerdas, brilian, genius, spektakuler, bombastis!!. Padahal sih keputusannya tetep saja yang tadi-tadi juga.

Seisi ruangan terbengong-bengong, mereka saling pandang, saling mengangguk-angguk... tepatnya manggut-manggut. Tetapi dalam hati mereka bilang ”Capee deeeh..”

Melihat response audiens seperti itu, Sang Raja terheran-heran. Dengan setengah marah beliau bersabda : ”Hai para punggawaku!! Kenapa kalian semua pada diam??!!, kenapa tidak kalian sambut keputusan Rajamu yang sangat bijaksana ini dengan tepuk tangan dan sorak sorai..???” Baginda kesal.


Maka serentak membahanalah tepuk tangan dan sorak-sorai gegap gempita menggelegar seolah-olah akan meruntuhkan ruangan pasewakan agung.
”Hidup Baginda...!!! Hidup Baginda..!!! Baginda adalah Raja yang konsisten...!! Baginda adalah Raja yang teguh pendirian...!!!”


Pengumuman sayembara gajah segera dikumandangkan ke seluruh negeri, sampai keluar negeri. Berbodong-bondonglah warga berdatangan dari berbagai belahan bumi untuk mengikuti sayembara yang sangat menghebohkan itu. Kontingen pawang gajah dari India, Pakistan, pedalaman Afrika, Thailand, Laos, China, Vietnam, Malaysia, Lampung, Ragunan, Taman Safari. Para dukun, paranormal, paramedis, tukang sulap, tukang sihir dari berbagai pelosok negeri. Semua tumpah ruah di alun-alun istana, bercampur dengan penonton yang riuh rendah bersorak-sorak menyemangati para peserta sayembara. Kyai Beleduk ditempatkan tepat di tengah alun-alun, dibatasi dengan tali-tali besar semacam ring tinju.


Di tribun VIP, barisan terdepan duduk berjajar paling tengah Seri Baginda Maharaja Gajah Duduk didampingi sang permaisuri dan para putra putrinya. Kemudian disamping-sampingnya lagi adalah Mahapatih, Para Menteri, Penasehat dan para anggota dewan. Dibarisan kedua duduk para duta besar dari negara sahabat, pejabat-pejabat lembaga internasional, aktivis LSM, ketua parpol dan para panglima perang.


Acara diawali dengan laporan ketua panitia, do’a dan sambutan dari Sri Baginda kemudian dimulailah sayembara gajah tersebut. Peserta pertama yang tampil adalah pawang kondang dari negeri India. Dengan pedenya si pawang ini maju ke arena sambil membawa sebuah seruling khas India dan sebuah cambuk. Suatu kombinasi alat bantu pawang yang aneh dan sungguh-sungguh gak matching sama sekali . Si pawang segera beraksi. Setelah merapal mantra-mantra , dia menari-nari sambil meniup seruling, sesekali dicambuknya punggung gajah Kyai Beleduk. Tapi tetap saja sang Kyai tak bergerak sedikitpun. Sampai batas waktu yang ditentukan maka pawang dari India dinyatakan gugur. Ketika turun dari arena, barulah si pawang ini sadar bahwa sebetulnya dia bukan pawang gajah, tetapi seorang gembala sapi yang merangkap pawang ular… halaah..


Peserta berikutnya berturut-urut pawang gajah dari Pakistan, Dukun dari Gunung Kawi, paranormal dari Bogor, Paramedis dari Puskemas desa Cilebut, para pelatih sepak bola gajah dari Way Kambas, pawang gajah dari Thailand, Afrika, Laos, Vietnam bahkan tim Discovery Channel, Animal Planet, Jejak Petualang mencoba keberuntungan, namun tetap saja tidak ada satupun yang berhasil membuat gajah Kyai Beleduk melompat-lompat dan menari-nari. Sampai akhirnya habislah semua peserta yang mengikuti sayembara gajah itu.


Matahari semakin naik, udara panas, debu dan peluh bercampur baur dalam desak-desakan para penonton yang makin gelisah. Mereka penasaran untuk segera mengetahui siapa pemenang sayembara gajah ini. Melihat gelagat yang berkembang kurang baik mengarah-ngarah ke anarkis, sang Baginda cepat tanggap mengantisipasi kemungkinan buruk yang bakal terjadi. Beliau bangkit dari tempat duduknya dan melambaikan tongkat kerajaannya.
“Hai Rakyatku..!!. Berhubung semua peserta yang terdaftar sudah mencoba sayembara ini tidak ada yang berhasil, maka aku umumkan sayembara ini berlaku umum dan bebas, siapapun berani yang masuk arena akan dianggap sebagai peserta!! Dan harus membuat Kyai Beleduk dapat melompat-lompat dan menari-nari!!” Teriak Baginda.

Mendengar teriakan itu, para penonton semakin berdesak-desakan saling dorong dan saling sikut-sikutan untuk maju ke arena.


Adalah seorang anak ABG yang menonton paling dekat dengan ring pembatas. Namanya Si Bona. Si Bona sebetulnya sedang sakit masuk angin, badannya meriang panas dingin. Di pelipisnya tertempel sticker putih alias koyo. Di tangan kanannya memegang balsem obat gosok warna merah, yang artinya obat gosok yang paling panas dan pedas. Niatnya hanyalah ingin nonton saja. Tetapi dorongan penonton dari belakang semakin kuat dan kasar. Lama-lama pertahanannya jebol. Karena tidak kuat menahan desakan, kontan saja Si Bona terlempar kedalam arena. Sorak sorai bergemuruh memberikan semangat kepada Si Bona karena disangka akan tampil menaklukkan sang gajah. Padahal Bona merasa tidak siap, tidak menduga bakalan jadi peserta. Badannya menggigil ketakutan, wajahnya pucat pasi, kakinya bergetar hebat, kepalanya celingukan kekanan kekiri pertanda bingung, takut dan malu.


“Hai anak kecil !!! Karena kamu telah berani masuk arena, berarti kamu harus mengikuti sayembara ini..!!!” teriak sang Maha Patih Gajah Oling.

“Am..ampuun Maha Patiih… s..s..saaya…”

“Tidak ada ampun-ampunan… cepat katakan siapa namamu..??” Sang Patih galak.

“Sa.sa..saya… eh.. sssaya Bona, Maha Patiiih..”

“Bona siapa? Sebutkan nama lengkap, siapa, dari mana dan passwordnya!!! (loh? kok jadi acara kuis ?) kamu cepat!!!”

”Sa..sa..saya Bona… Lengkapnya Bona Gajah Kecil Berbelalai Panjang…” jawab si Bona semakin ketakutan.

“Cepat laksanakan tugasmu..!!” giliran Baginda yang tidak sabar.

“Beb..ba.baik Baginda..”


Dengan gemetar ketakutan, didekatinya Kyai Beleduk.
Dipegangnya belalai sang Kyai.. diam saja..
Dielus-elusnya badan Kyai Beleduk… dengan segala harap dan doa.. tetapi gajah kerajaan itu tetap tidak bergerak. Setelah beberapa lama, tanpa sengaja tiba-tiba tangannya tersentuh bagian tubuh gajah yang paling sensitif. Sang Gajah Beleduk mendongakkan kepalanya sejenak, namun setelah itu kembali tertidur. Melihat response Kyai Beleduk itu, tiba-tiba muncullah ide jahil didalam pikiran Si Bona. Dibukanya tutup obat gosok panas yang dari tadi selalu dipegang. Dioleskannya obat gosok tadi kebagian tubuh Kyai Beleduk yang paling sensitif tadi. Tiba-tiba.. mendadak sontak sebuah bayangan hitam menghantam tubuh si Bona sehingga terlempar keluar arena. Pandangannya gelap, rasa sakit luar biasa menekan dadanya seolah remuk semua tulang iganya. Tidak berapa lama diapun pingsan.


Selagi si Bona pingsan, seisi alun-alun menjadi kacau balau. Setiap orang berlarian kesana-kemari menghindari amukan Kyai Gajah beleduk yang berjingkrak-jingkrak kepanasan menyeruduk panggung VIP hingga rubuh. Untuk menjinakkan Kyai Beleduk yang sedang mengamuk itu maka Baginda Raja memerintahkan Pasukan Anti Gajah Ngamuk (PAGN) untuk menangkap dan menjinakkannya. Setelah keadaan dapat dikendalikan kembali, kekacauan sudah mulai reda.
Baginda pun bersabda :
“Hai rakyatku semuanya!!! Telah aku putuskan pemenang sayembara ini adalah si bocah kecil yang bernama Bonaaaa!!”

Mendengar pengumuman itu, Bona yang tadinya pingsan langsung siuman. Pelan pelan dibukanya matanya, kemudian mulutnya tersenyum dan.. tidak menunggu lebih lama lagi, si Bona langsung diangkat oleh para supporternya.
Namun tiba-tiba terdengar suara melengking dari kerumunan para peserta yang gagal :
“Objection Baginda..!! “ Wess… udah kayak di pengadilan aja. Rupa-rupanya peserta wakil dari India yang salah profesi tadi berkeberatan atas putusan Raja.

“Apa keberatanmu hai Vijay..??” Teriak Baginda. Sebetulnya capek juga ya. Cerita ini dari tadi teriak-teriak mulu. Gak tau kenapa bisa begitu. Kali aja sound systemnya lagi problem.

“Begini Baginda..!!” teriak Vijay. Duuh.. lagi-lagi tereak.

“Saya keberatan karena si bocah itu telah berbuat curang dengan melakukan kontak fisik”
“Terus apa maumu..??” Tanya Baginda.

“Saya usul bagaimana kalau sayembara ini dilanjutkan tetapi tidak boleh melakukan kontak fisik dengan Kyai Beleduk” usul Vijay.

“Hmm…” sejenak Baginda Gajah Duduk berpikir, namun tidak bisa memberikan jawaban. Akhirnya dia bertanya kepada sang Patih

“Bagaimana menurutmu hai Paman Patih..?”

“Ehm… menurut pendapat saya, sebaiknya usulan orang India ini dikabulkan saja Baginda.. tetapi bukan membuat membuat Kyai Beleduk melompat-lompat Baginda” Usul Patih Gajah Oling

“Terus Kyai Beleduk harus bisa apa paman Patih?”

“Saya usul agar sayembara membuat Gajah kerajaan ini bisa geleng-geleng kepala”

“Ide bagus… ide bagus Paman Patih itu adalah pekerjaan sulit…” Sang Raja merasa puas dengan usulan sang Patih.

“Hai Rakyatku… Sayembara ini saya lanjutkan pada babak final dengan hadiah yang bertambah besar..! Barang siapa dapat membuat gajah kerajaan Kyai Beleduk menggeleng-gelengkan kepala tanpa menyentuh bagian tubuhnya maka hadiahnya adalah menjadi menantu Raja ditambah bulan madu keliling Eropa selama satu bulan, syarat dan ketentuan berlaku!!!!” Begitulah bunyi pengumuman Baginda Raja.


Kembali sayembara berlangsung dengan serunya. Kembali pula satu-persatu peserta mencoba keberuntungan ini dengan segala ilmu dan keahliannya. Namun tidak satupun yang berhasil membuat gajah kerajaan yang lagi ngambek itu menggeleng-gelengkan kepalanya. Ada yang sengaja membunyikan house music dengan harapan si gajah tertarik untuk tripping. Ada yang nyanyi lagu Burung Kutilang.. “di geleng-geleeengkan kepalanya.. tri li li.. li li li li”. Ada yang sengaja main tenis di depan Kyai Beleduk, maksudnya biar gajahnya geleng-geleng kepala ngikutin gerakan bola persis yang dilakukan penonton US Open atau Wimbledon. Tidak ada satupun yang berhasil memenangkan sayembara ini.


Di saat-saat terakhir itulah muncul kembali si pahlawan muda kita... BONAA...!!!. Sebagai juara bertahan, sebagai peserta incumbent, dia harus mempertahankan kemenangannya. Menjaga image dan reputasinya yang terlanjur kondang telah memenangkan sayembara di babak pertama. Kemunculan kembali si Bona sangat di-elu-elukan oleh penggemarnya. Dengan dikoordinir oleh ketua Bonamania (yaitu organisasi fans Bona), mereka mengenakan kaos seragam warna orange meneriakkan yel-yel dan lagu-lagu perjuangan untuk kemenangan Bona. Puluhan ribu SMS membanjir ke hape Bona tanpa dapat dicegah. Di TV-TV iklan Bonapun sangat mendominasi.

“Bila kamu ingin menjadi sahabat Bona..!!” begitu kata iklan “caranya gampang.. cukup ketik REG spasi BONA kirim ke 9877. pasti aku jawab langsung dari hapeku....iih.. udah gak sabar pengin SMS kamuuuh…”
Waah... ini cerita lebay banget ya..


Si Bona Gajah Kecil Berbelalai Panjang.. Sang jagoan.. sang pahlawan dengan tenang dan penuh percaya diri maju ketengah lapangan.... Tidak seperti tadi, dia bingung dan ketakutan. Dengan cermat, diamatinya Kyai Beleduk yang sedang duduk dengan malasnya. Cling..!! Muncullah ide gila si Bona setelah terpikir pengalamannya memenangkan sayembara tadi. Didekatinya Kyai Beleduk itu, kemudian dengan suara yang sangat lirih,lembut dan mesra dibisikkanlah sesuatu kata ke telinga sang gajah.


HEBAT..!! SURPRISE..!!! AJAIB..!! FANTASTIK!! MENGEZUTKAN!! MENAKJUBKAN!! SPEKTAKULER!! BOMBASTIS..!! Tiba-tiba saja Kyai Beleduk.. Sang Gajah Kerajaan yang sedang menderita penyakit malas.. yang tak mau bergerak oleh kekuatan, pengaruh, hasutan, provokasi, intimidasi apapun dari peserta sebelumnya.. Tiba-tiba saja menggeleng-gelengkan kepalanya. Alun-alun kerajaan bergemuruh, sorak sorai penonton dan jerit histeris dari para penggemar Bona membahana bak meledak di angkasa. Para konstituen Bona itu merangsek maju ingin menyentuh, berjabat tangan, memeluk bahkan ada yang ingin ingin mencium sang idola baru ini. Suasana semakin gaduh, keadaan tak terkendali, tribun barat tempat duduk para tamu VIP runtuh. Para tamu VIP, para undangan Duta Besar negara sahabat dan staff diplomatik berlarian kesana-kemari menyelamatkan diri. (Udah… jangan diterusiin…., ntar kisah ini makin hiperbol aja…)


Malam harinya, SI Bona pun tampil di TV. Seluruh stasiun TV bekerja sama menayangkan acara wawancara tunggal dengan Bona sang Pahlawan. Semua stasiun TV memblok satu slot waktu prime time dan mengerahkan presenter paling kondang di seluruh negeri. Najwa Shihab, Chantal Dela Concenta, Bayu Sulistyono, Rahma Sarita, Feni Rose, Desi Anwar, sampai Oprah Winfreypun ikut mewawancarai si Bocah kecil ajaib ini. Mereka secara bersama-sama mewawancarai Bona.

“Mas Bona.. bagaimana perasaan anda ketika mengetahui mas sebagai pemenang sayembara ini..?” Tanya Desi Anwar.

“Senang mbak… sueeneeng banget.. saya gak nyangka kalau bisa memenangkan sayembara ini..” Jawab Bona sambil senyum-senyum.

Wawancara berjalan seru. Para presenter dan jurnalis berebut mengajukan pertanyaan. Bona dengan bangga meceriterakan success story ini sambil tak henti-hentinya menebar senyuman. Akhirnya muncullah pertanyaan yang tak terduga dari Oprah Winfrey

“Sorry mas Bona.. saya mau tanya nih… ngemeng-ngemeng, betewe, saya jadi penasaran dengan cara mas memenangkan sayembara ini… sebetulnya apa sih kata-kata,mantra-mantra, jampi-jampi dan rapalan do’a yang mas Bona terapkan untuk menaklukkan Kyai Beleduk..sampai dia menggeleng-gelengkan kepalanya?” tanya Oprah tak sabar.

“Ooh… itu sih gampang mbak Opraah…!!” jawab Bona kalem.

“Gampang gimana..??” Oprah makin penasaran.

“Gini mbak Oprah yah… gajah itu aku dekatin terus aku bisikkan sesuatu kalimat padanya..”

“Kalimat apa itu..?.. mas Bona??” tanya mbak Oprah Winfrey.

Bona bediri dari tempat duduknya kemudian berkata :

“Saya bilang sama si gajah begini…. HEI GAJAH!!! MAU NGGAK BIJI ELO GUE OLESIN LAGI???”





Pesan Moral : “Seseorang kadang bisa menjadi pahlawan hanya karena berada di posisi yang tepat pada saat yang tepat”.


Sijoss
NewLand, Depok April 2009

Tidak ada komentar:

DUH.... AKU LUPA RINDUKU TERGURAT DIMANA

Ku guratkan rinduku pada setangkai bunga Lalu kubiarkan saja disitu di taman sunyiku Mekar semerbak harum kuntum demi kuntum Masih saja k...