03 Oktober 2012

INDAHNYA HIDUP DI NEGERI ANOMALI #01


Episode : Berangkat Bekerja
(Ditulis bulan November 2009)

Negeri Anomali. Negeri yang berbeda. Negeri putih hitam dimana cahaya adalah kegelapan dan kegelapan adalah kehidupan. Negeri yang menyimpang dari nilai-nilai universal. Negeri dimana setiap pemahaman apapun akan berbentuk lingkaran. Kewajaran dan ketidak wajaran melingkar tiga ratus enam puluh derajat saling bertemu. Tidak ada ujung, tidak ada pangkal. Kejahatan dan kebaikan menjadi satu warna yaitu abu-abu. Warna campuran antara putih dan hitam.  Kebenaran adalah sesuatu keyakinan yang bersifat personal dan unik dari setiap individu sesuai dengan kepentingannya. Di negeri “yang indah” inilah aku hidup “bahagia”  bersama ratusan juta saudara-saudaraku sebangsa dan setanah air..

Inilah ceritaku :

Pagi-pagi buta, gelap yang benar-benar membutakan penglihatan. Pagi itu perusahaan listrik milik pemerintah sengaja mematikan aliran listriknya ke rumah-rumah. Aku terbangun dari tidurku, meraba-raba dalam gelap mencari sisa-sisa lilin yang masih ada. Perusahan listrik ini memang baik hati, sungguh bisa mengerti dan memahami suasana pagi ini. Hanya diterangi temaramnya lilin-lilin kecil, dini hari ini terasa sangat  syahdu dan romantis. Suasananya benar-benar alami, seperti suasana pedesaan jaman aku masih kecil dulu. Sepi, dingin dan temaram membuat sujudku dipagi buta ini terasa lebih khusyuk.

Pagi masih dingin dan berkabut. Hujan semalam masih meninggalkan jejak tanah basah dan dedaunan yang segar. Aku berangkat bekerja naik ojek ke stasiun terdekat. Abang Tukang Ojeknya masih muda dan penuh semangat. Caranya mengendarai motor sungguh mendebarkan. Bagaikan pemain akrobat, kadang ngebut, tiba-tiba ngerem mendadak, nyelip diantara keramaian dan kemacetan lalulintas. Kadang naik trotoar. Menghadang mobil didepannya. Melawan arus,  menerobos traffic light. Benar-benar perjalanan sensasional yang memicu adrenalin. Situasi yang tidak akan ditemui di negeri selain Negeri Anomali ini.  Sesampainya di stasiun kereta segera aku bayar dan tak lupa mengucapkan terimakasih kepada Abang Tukang Ojek. Terimakasih karena selama perjalanan dari rumah ke stasiun kereta, dia telah berjasa membuat diriku lebih mendekatkan diri kepada Allah SWT dengan do’a-do’a keselamatan dan istighfar  yang tak putus-putus terucap dari bibirku.

Di depan loket  orang-orang berkerumun berebut membeli karcis. Disini setiap orang menemukan kebebasannya. Tidak perlu diatur-atur dalam bentuk antrian panjang yang kaku, formal dan membosankan. Loket stasiun setiap hari telah berbaik hati melatih penduduk negeri ini untuk lebih berjuang dan berinovasi dalam rangka mendapatkan karcis kereta. Satu lagi kehebatan Negeri Anomali dibandingkan negara manapun di dunia. Bahkan hebatnya lagi, stasiun ini juga memberikan keleluasaan untuk memilih membeli karcis atau tidak. Ada tempat khusus bagi penumpang yang tidak membeli karcis, yaitu … atap kereta. Ah. Betapa “merdeka”nya hidup di Negeri Anomali.

Peron stasiun sudah ramai. Peron yang ramah dan sangat mengerti kebutuhan calon penumpang. Counter makanan berjajar sepanjang peron, digelar terbuka menyajikan aneka macam makanan bagi yang ingin menyempatkan diri sarapan pagi. Tidak hanya itu. Barang-barang kebutuhan pribadi, kantor dan rumah tangga juga disediakan disela-sela para penjual makanan. Atau ditawarkan secara pro-aktif oleh penjualnya. Kalau di negara-negara lain di dunia biasanya hanya ada satu atau dua toko kecil di dalam peron, malahan tidak ada sama sekali. Inilah kehebatan Negeri Anomali yang aku cintai sepenuh hati. Di peron ini calon penumpang dihibur dengan live music yang yang dimainkan oleh seorang musisi saja atau group music lengkap dengan dengan gitar, bass, drum, flute,dan ukulele. Calon penumpang yang dihiburpun diberikan kebebasan untuk memilih menikmati atau tidak. Diberikan kebebasan untuk membayar atau tidak. Cukup dengan melambaikan tangan tanda menolak. Dibeberapa sudut peron,  koran, majalah dan tabloid dipajang rapi. Mereka  masih setia dengan gosip artis kawin cerai dan kelakuan lucu para pejabat negeri termasuk politikus.

Sambil menunggu kereta datang, aku menyempatkan diri menikmati segelas kopi hangat ditemani beberapa potong kue yang dijajakan di peron. Ternyata PT. KAA (PT Kereta Api Anomali) telah berbaik hati memberiku kesempatan untuk menghabiskan kopi hangatku dan makan beberapa potong kue lagi. Kereta yang seharusnya datang pukul 6.30 pagi, telah memutuskan diri datang  sekitar 20 menit lebih lambat, mungkin perusahaan ini ingin  memberi kesempatan bagi calon penumpang yang masih ingin menikmati sarapan pagi di peron dan bagi yang baru datang agar tidak terburu-buru berlarian mengejar kereta. Semoga Pak Masinis dan semua pegawai PT KAA senantiasa mendapatkan lindungan Illahi Robbi, karena telah sebegitu baik hatinya kepada para penumpang.

Kereta listrik di Negeri Anomali mempunyai fasilitas sangat luar biasa, tidak ada  bandingannya dimanapun di dunia. Kereta ini memberikan sejuta kemungkinan yang memicu berbagai kreatifitas cara menumpang. Bagi yang ingin menikmati sejuknya hembusan udara segar, bisa duduk manis di atap kereta sambil melihat pemandangan kota. Gratis pula. Atau menumpang dengan cara nemplok dibagian luar belakang gerbong. Kalau di negeri seberang, ada orang yang bisa nemplok didinding saja sudah dibuatkan filmnya dan dijadikan super hero. Tetapi di negeri anomali, orang seperti Spiderman itu suatu hal yang sangat biasa dan setiap pagi nemplok didinding belakang bagian luar gerbong kereta. Tidak ada yang heran dan tidak ada yang takjub.

Keadaan didalam gerbongpun sungguh menakjubkan dan mengharukan. Para penumpang saling mengakrabkan diri dengan merapatkan hati diantara mereka. Kebersamaan suasana batin dan gejolak perasaan membuat keadaan didalam gerbong penuh dengan kehangatan. Suasana yang benar-benar egaliter. Tidak ada pengkotak-kotakan, tidak ada diskriminasi rasial, ideologis dan perbedaan gender. Ini terbukti tidak adanya keharusan bagi seorang tua renta atau hamil tua harus duduk sementara pria gagah perkasa harus berdiri. Cukup dengan berpura-pura tidur atau baca koran. Semuanya first in firt sit. Hebat kan! Hmm…

Kereta listrik di Negeri Anomali ini ibarat seorang gadis cantik molek bak bidadari turun dari kahyangan, banyak sekali yang menyukai, menjadi obyek rebutan bagi manusia bumi. Belum juga kereta berhenti sempurna, para penggemar sudah berhamburan berjuang, berebut menaikinya. Aku beruntung berhasil masuk kedalam gerbong. Aku terjepit disela-sela ketiak para penumpang. Sesekali aku mengintip keluar, tampak ramainya lalu lintas di jalan raya yang searah dengan rel kereta. Aku salut dengan penduduk negeri ini. Semangat kebersamaan mereka tak ada duanya di dunia. Bangun pagi bersama-sama. Berangkat kerja bersama-sama. Memenuhi jalanan raya juga bersama-sama.  Mayoritas penduduk negeri ini amat menyukai kendaraan roda dua. Mungkin karena lebih praktis, lebih lincah dan lebih hemat. Mereka amat sangat kompak. Bahkan jalan pikiran mereka pun kompak. Mereka keluar bersama-sama memenuhi jalan raya, sampai meluber ke gang-gang kecil, naik ke trotoar-trotoar. Mengerumuni traffic light di perempatan-perempatan. Membuat jalan raya lebih meriah seperti ada perayaan karnaval setiap hari.  Lalu lintas di negeri ini memang benar-benar fleksibel, luwes dan cair. Tidak membutuhkan aturan berkendara di jalan raya. Rambu-rambu di jalan raya adalah hiasan yang indah. Setiap pengguna jalan raya diberikan kebebasan untuk memanfaatkan jalanan sesuai dengan kemauannya masing-masing. Hmm.. indah nian.

Kalau negeri lain  kendaraan roda empat itu diisi empat atau lima orang lebih, di negeri ini cukup diisi satu atau dua orang saja. Sebaliknya kalau di negeri lain motor hanya ditumpangi satu atau dua orang saja, di negeri ini bisa empat sampai lima orang.  Aku tersenyum melihat seorang bapak naik motor memboncengkan di depan dua anaknya dan dibelakang istrinya sambil menggendong anaknya yang masih kecil. Bapak ini waktu mudanya dulu pemain sirkus kali ya.

Kereta listrik berhenti tiba-tiba, bukan di stasiun tetapi entah dimana, entah kenapa dan entah berapa lama. Rupanya masinis masih bermurah hati memberikan kesempatan lebih lama lagi  kepadaku untuk menikmati keramaian jalan raya.

Keluar stasiun sudah sangat terlambat. Aku bergegas naik bajaj, segera saja kutemukan sensasi lain yang tak ada duanya di dunia. Seketika aku tidak mendengar suara-suara ramainya jalan raya. Tidak ada deru mobil, suara klakson atau  berisik sepeda motor. Bahkan akupun tidak bisa mendengarkan suaraku sendiri. Semua suara yang sedemikian riuhnya itu hilang dari pendengaranku.  Yang ada hanyalah suara mesin bajaj yang mengalahkan semua suara lainnya.

Oh ya, tadi lupa aku ceritakan, bahwa aku di dalam cerita ini adalah seorang pegawai pemerintah daerah di ibukota Republik Anomali yang “tercinta” ini. Sebenarnya jarak antara stasiun kereta dengan kantor tempat aku bekerja tidaklah jauh. Bisa dijangkau dengan jalan kaki. Tetapi adab negeri ini memang benar-benar memanjakan penduduknya. Kalau masih ada kendaraan mengapa mesti berjalan kaki?. Karena itulah tadi aku naik bajaj. Salah satu alasannya biar tidak dibilang manusia tak lazim.

Dengan perasaan amat sangat bersalah karena datang amat sangat terlambat, aku memasuki ruangan kerjaku.  Dan mendapati ruangan itu masih kosong. Belum ada satupun rekan kerjaku yang datang. Tiba-tiba aku merasa menjadi manusia yang paling tak lazim di negeri ini.


Si Joss
New Land, Depok
Nopember 2009

Tidak ada komentar:

DUH.... AKU LUPA RINDUKU TERGURAT DIMANA

Ku guratkan rinduku pada setangkai bunga Lalu kubiarkan saja disitu di taman sunyiku Mekar semerbak harum kuntum demi kuntum Masih saja k...