By : MARFA AULLY
Class : VI-D Masjidil Quba
SDIT NURUL FIKRI
Namaku adalah Mikan Aozora, aku memiliki kakak kembar bernama Natsu Aozora. Kami kembar yang tidak biasa, karena kakak adalah laki-laki, dan aku adalah perempuan. Kalau dilihat secara fisik, kami akan terlihat seperti berbeda umur satu atau dua tahun, karena kakakku tinggi menjulang, sedangkan aku kecil mungil.
Kedua orang tua kami bekerja, dan sering pulang malam. Karena ibu jarang bangun pagi, biasanya aku yang memasak di rumah, sementara kakak bersih-bersih. Kalian tahu, meskipun kakakku menyebalkan di rumah, dia adalah idola di sekolahku. Dan meskipun dia suka usil, ada sebuah peistiwa yang membuat aku sangat menyayanginya. Apa kalian tahu peristiwa itu? Kalian belum tahu? Kalau begitu, akan kuceritakan peristiwa itu.
Suatu pagi, kakak membangunkanku dengan cara yang kurang wajar, dia menarik selimut dan bantalku bersamaan. Kalau seperti itu, aku sudah biasa, karena hampir tiap hari kakak melakukannya. Tetapi ini bagian yang agak berbeda, karena biasanya aku langsung bangun begitu bantalku ditarik. Kali ini, karena sudah biasa, aku tidak terbangun. Maka, kakak menarikku sampai jatuh dari tempat tidur, spontan aku menjerit karena kaget.
“ Aduuh, apa-apaan, sih, Natsu, kan, sakit,” Kataku sambil berdiri.
“ Cepat mandi, lalu siapkan sarapan! ini hari Senin, hari ini upacara penerimaan siswa baru! Kita sekarang kelas lima! Kalau sudah kelas lima, kita harus membantu adik kelas satu menemukan kelas mereka!” kata Natsu agak berteriak.
“Oh iya! Aku sampai lupa! Kenapa tidak bangunkan aku dari tadi? Jadi susah, kan!” pekikku kaget.
Dengan cepat aku meraih handuk dan pakaianku. Aku mandi dengan kecepatan penuh, dan memakai seragam dengan cepat. Lalu dengan cepat menggoreng telur dan memanggang roti sekalius. Aku sudah biasa melakukannya karena sering kepepet waktu. Dengan cepat kami menghabiskan sarapan. Aku menyiapkan bekal cepat berupa dua kotak makan berisi sandwich isi tuna mayones, nasi kepal isi ayam, dan teh hijau dalam kotak, sementara kakak mencuci piring.
Saat kakak selesai mencuci piring, bekal sudah terbungkus rapi oleh serbet dan masuk ke dalam tas kami masing-masing. Dengan cepat kami memakai sepatu, lalu kakak mengambil sepeda. Begitu kakak siap, aku langsung melompat ke belakang kakak, dan langsung duduk menyamping, dan berpegangan dengan erat. Kakak langsung memacu sepeda dengan cepat, dan sekali lagi kami selamat dari resiko terlambat karena kecepatan kakak.
“Para murid kelas lima, bagi yang bertanggung jawab untuk membantu para murid kelas satu, setelah menemukan kelas kalian, harap berkumpul di aula utama,” kata pak kepala sekolah.
Aku dan kakak langsung menuju papan pengumuman. Di sana tertulis nama kami yang akan mengungkapkan di mana kelas kami kelak. Saat kami menemukan deretan kelas lima, mata kami langsung berhenti di kelas 5-A. kami berada di absen yang berada di urutan atas. Kami saling pandang.
“Sekelas lagi? Kenapa gak pernah pisah, sih?” kata kami bersamaan.
Sejak TK, kami memang selalu bersama, selalu sekelas. Itu sebabnya kenapa orang terkadang heran saat melihat aku dan kakakku setiap tahun selalu masuk ke dalam kelas yang sama. Kami langsung masuk ke kelas 5-A untuk menaruh tas, lalu pergi ke aula untuk mendengar kata sambutan dari kepala sekolah yang setiap tahun sama. Kami sampai hafal di luar kepala, dan terkadang kami bercanda sambil menirukan pidato kepala sekolah.
Aku dan kakak duduk di kursi yang tersedia di aula.Karena pidatonya cukup lama, aku dan kakak mulai merasa mengantuk, akhirnya kami tertidur sambil saling menyandarkan kepala ke bahu. Satu jam kemudian, kakak terbangun, dan ternyata pidatonya sudah selesai, dan kakak membangunkan aku. Pak kepala sekolah tetap di tempatnya, lalu kami bangkit.
Kami pergi ke depan panggung. Karena kakak dan aku mendapat nilai tertinggi di ujian, dan juara umum ke satu dan dua, kami diperintahkan untuk memberi sambutan. Kami menunggu sampai ruangan aula penuh, lalu kami naik ke atas panggung untuk memberi sambutan. Kami diperintahkan memberi sambutan karena kepala sekolah tahu, jika beliau yang memberi sambutan, maka para murid kelas satu dan kelas dua akan mulai bermain dan berlarian di dalam aula.
Ketika aula penuh, kami naik ke panggung untuk memberi kata sambutan.Kakak memberi pidato awal yang berisi sambutan yang cukup singkat untuk disebut pidato.
“Para murid kelas satu, selamat datang, dan untuk kelas dua, apa kabar? Semoga kalian merasa senang dan mendapat teman baru! Raihlah prestasi kalian setinggi mungkin, ingat, siapa yang berusaha akan berhasil!” kata kakak, kemudian dia memberi hormat, dan menyingkir dari mimbar.
Setelah dia menjauh dari mimbar, sekarang giliranku untuk membacakan pembagian kelas. Di sekolahku, pembagian kelas dari kelas satu sampai kelas dua diumumkan di aula. Setelah selesai diumumkan, aku dan kakak membimbing para murid kelas satu A ke kelas mereka.
Setelah selesai mengantar mereka, kami kembali ke kelas. Saat sampai di kelas, guru kami belum datang, memang berbeda dari kelas satu, kelas empat, lima dan enam, pengurus kelasnya ditentukan oleh masing-masing murid. Setelah dipilih ketua kelasnya, ketua kelas akan menjemput wali kelas mereka.
“Lho, kok ketua kelasnya belum dipilh? Pantas saja gurunya belum ada,” Kata kakak sambil mengedarkan pandangan ke seluruh kelas.
“Kenapa ketua kelasnya belum dipilih?” tanyaku kepada salah seorang murid kelasku.
“Oh, ketua kelasnya sudah dipilih, kami hanya menunggu kalian datang sebelum memanggil gurunya,” kata gadis tersebut sambil mengibaskan salah satu kepangannya.
“Kenapa? Kalian kan tidak harus menunggu kami dulu, kalian kan bisa langsung meminta ketua kelas untuk memanggil gurunya?” Tanya kakak kepada gadis itu.
“Oh, kami tidak perlu memintanya, karena ketua kelasnya baru sampai!” kata seorang anak yang lain.
Aku dan kakak saling pandang, tentu saja kami heran, karena, anak yang baru sampai hanya kami, jadi, kemungkinannya adalah, ketua kelasnya aku, atau kakakku.
“Ketua kelasnya adalah Natsu, dan wakilnya adalah Mikan!” kata anak itu sambil tersenyum senang.
Wajah kakak langsung berubah menjadi bête. Terpaksa kakakku kembali keluar dari kelas. Spontan aku langsung berlari mengejarnya. Aku hanya tersenyum kecil melihatnya. Aku memang bisa sangat dewasa, tapi bisa sangat kekanakan juga.
“Permisi, kami dari kelas 5-A, hendak menjemput wali kelas kami dan wakilnya,” Kata kakak meminta izin sambil membuka ruang guru pelan-pelan.
“Oh! kalian akhirnya datang juga, kami sampai bingung, kenapa perwakilan kelas 5-A tidak datang juga, rupanya kalian adalah para murid yang baru memberi salam kepada para murid baru, ya!” kata salah satu guru di ruangan itu sambil tersenyum.
Kemudian guru itu bangun bersama seorang guru yang lain. Aku mengenal salah satu diantaranya.Dari dua guru itu, salah satunya perempuan, aku mengenalnya, dia Bu Aibara, beliau adalah guru melukis. Tetapi yang satunya aku tidak tahu tapi aku pernah melihatnya sekali dua kali di sekolah.
“Hmm, siapa ya, guru itu, aku pernah melihatnya, sih, tapi aku tidak mengenalnya.Kalau tidak salah, guru itu guru baru, deh” . Pikirku sambil memperhatikan wajahnya.
Ketika sampai di kelas, para murid langsung duduk rapi di bangku masing-masing sesuai absen. Ketika kedua guru tersebut masuk, sekeraris yang sudah dipilih langsung memberi aba-aba. Seluruh kelas berdiri dan memberi salam. Ternyata guru yang pria itu adalah Pak Nanami, beliau memang guru baru di sekolah kami, beliau baru bekerja selama satu tahun.Setelah sesi perkenalan antara murid dan guru selesai, ada istirahat, lalu pulang. Sesi perkenalan selesai, para murid berhamburan ke luar kelas menuju kantin. Murid kelas satu dan dua dibimbing oleh para wali kelas melakukan tur singkat keliling sekolah, sehinga kami harus menunggu sampai kelas satu lewat, baru kami lewat.
“Mikan, makan di halaman belakang sekolah, yuk!” ajak Natsu kepadaku.
“Oh, iya, kau duluan saja ke sana, Natsu, nanti aku menyusul,” Kataku sambil tersenyum.
“Di tempat biasa, ya, jangan lama-lama, nanti keburu istirahatnya habis!” kata Natsu sambil menuju pintu ke luar kelas. Aku tersenyum mendengarnya, aku tahu yang dimaksud ‘tempat biasa’ oleh Natsu adalah pohon sakura besar di belakang sekolah.
Sebenarnya, aku menyembunyikan secarik kertas di genggamanku.Kertas itu kutemukan di laci mejaku tadi. Setelah memastikan kakak sudah pergi, aku membuka kertas itu dan menemukan beberapa baris tulisan rapi yang bertuliskan:
Mikan, jika kau memberi tahu kakakmu tentang surat ini, maka kakakmu akan menghadapi masalah yang besar. Kau tahu, seharusnya aku yang mengantar para adik kelas satu ke kelas mereka bersama kakakmu, seharusnya aku yang mendapat peringkat kedua, seharusnya aku yang menjadi populer di sekolah ini, bukan kau, jelas aku lebih cantik darpadai kau yang cebol dan jelek. I’M THE BEST, YOU KNOW? Aku takkan membermu kesempatan lagi kali ini.
Aku agak terkejut melihatnya, mulutku sampai terbuka sedikit saking kagetnya. Kemudian aku langsung memasang wajah poker face sambil meremas keras itu dan melemparnya ke tong sampah dekat papan tulis dan langsung masuk ke dalamnya. Aku langsung mengambil bekalku dan pergi ke pohon sakura di belakang sekolah.
Aku bungkam soal surat kaleng tersebut, karena aku tidak menganggap itu terlalu penting, dan agar kakakku tidak cemas. Kakakku itu suka over protective karena ibu berkata aku adalah sang puri, dan Natsu adalah ksatrianya, sehingga ibu berhasil membuat Natsu bertekad untuk terus melindungiku. Aku tidak suka diperlakukan seperti itu, karena aku bukan seorang putri, anak bupati saja bukan.
Saat sampai di pohon yang dimaksud Natsu, aku langsung duduk dan membuka bekalku. Di sana sudah ada Natsu, sahabat kami, Yume Aisawa, dan Haruhi Kojiro.
“Kau lama sekali, memangnya ada apa di kelas?” Tanya Natsu padaku dengan tatapan curiga.
“Tidak ada apa apa kok,” Jawabku dengan wajah cuek. Aku sudah biasa diperlakukan seperti ini, meskipun aku tidak suka, sih.
“Jangan bohong ya…” Kata Natsu makin curiga.
“Iih, Natsu apaan sih, masa’ sama adik sendiri tidak percaya, jahaat!” seruku kepada Natsu.
“Tuh, tuh, lihat tuh, mereka udah mau berantem tuh,” kata Haruhi. Oh, iya, Haruhi itu cowok, lho!
“Sudah, sudah, kalian jangan berteman!” lerai Yume sambil terkikik geli melihat kami.
“BERTENGKAR! BUKAN BERTEMAN!” teriak kami bersamaan. Kali ini Yume tertawa mendengar kami berteriak, tak lama kemudian kami semua tertawa lepas.
Setelah makan siang, kami kembali ke kelas, karena, jam istirahanya sudah habis. Saat kami membereskan tempat makan, aku melihat, Akari Satoru, cewek paling cantik dan paling populer di angkatan kami.
Tahun lalu, kami bersaing demi mendapatkan posisi membacakan letak kelas, karena dia cukup pintar, tapi, karena aku belajar dengan yang juara satu, aku menjadi juara dua. Kulihat dia memandangku dengan tatapan penuh benci. Aku terkejut melihatnya, karena belum pernah ada yang menatapku seperti itu.
Di sebelahnya terlihat Suzune Amasaki. Dia adalah anak yang memperebutkan predikat rangking satu dengan Natsu. Dia cukup populer juga. Karena wajahnya lumayan, olahraga jago, dan otaknya hanya sedikit kurang encer dari kakakku. Dia melihatku dan memberiku senyuman ramah. Karena aku agak bingung, aku membalas tatapan mereka berdua dengan senyuman. Entah mengapa wajah Satoru langsung menjadi semerah udang rebus, dan Akari terlihat kesal.
“Mikan, ayo cepat sedikit, kau tidak usah perhatikan mereka! Memangnya kau mau, karena menunggumu, kita jadi telat massal?” kata Natsu agak mendesakku.
“Eh, iya, iya, ini aku sudah cepat tahu!” seruku kepada Natsu. Saat kulihat lagi, Akari dan para ajudannya sudah pergi.
Setelah membereskan bekal, kami berlari sekencang angin menuju kelas (meskipun aku agak sedikit diseret, sih). Tiba-tiba aku merasa sangat pendek, karena saat kulihat, Natsu dan Haruhi setinggi anak kelas 1 SMP, dan mereka jago basket, sehingga menjadi idola sekolah.Yume memiliki tinggi seperti rata-rata anak seumur kami, tetapi tetap saja, dia tidak mini sepertiku.
Esoknya, aku dan Natsu menjalani pagi seperti biasanya. Tapi, aku menemukan secari kertas lagi, yang ternyata adalah surat kaleng seperti kemarin, begini bunyinya:
Mikan, kamu itu tidak usah sok manis, deh, mentang-mentang ada kakak yang bisa melindungi, kau menjadi tenang-tenang saja. Senyummu dan wajahmu itu mungkin bisa memikat teman-teman dan para guru, tapi itu tidak akan berhasil padaku. Kau pernah mengalahkanku sekali, tapi itu takkan terulang kembali. Jelas aku lebih baik darimu. Aku akan segera mengalahkanmu. Kutunggu jawabanmu. Tulis jawabanmu di secarik kertas dan tinggalkan di laci mejamu.
Aku semakin heran, tulisan tangan ini sama dengan tulisan di surat kaleng kemarin. Aku mengambil secarik kertas yang biasa kupakai untuk coret-coret saat bosan, lalu kutuliskan seperti ini:
Aku heran kepadamu, Sang pengirim surat, tapi aku ingin bertanya sesuatu kepadamu, siapa kau? Dan apa maumu? Dan lagipula, jika kau ingin mencari musuh, jangan aku, karena tidak akan seru bersaing denganku. Sebaiknya, kau bertemu denganku, dan kita bicarakan baik-baik. Bagaimana menurutmu? Aku orang yang terlalu damai, sehingga kau akan cepat merasa bosan bermusuhan denganku, akan jarang sekali terjadi perkelahian, bahkan adu mulutpun pasti hanya sedikit. Tapi, jika dengan Akari, kau akan menemukan permusuhan yang seru. Karena aku yakin, dia akan sering bertengkar denganmu. Mari bicarakan dulu apa yang membuatmu begitu kesal denganku. Mungkin aku busa memperbaiki diri.
Setelah selesai kutulis, kutaruh kertas itu dalam posisi tengkurap. Setelah itu aku langsung mengambil buku pelajaran, dan karena bel sudah berbunyi, aku menarik Natsu untuk memanggil guru.
Setelah pelajaran, ada istirahat. Aku dan teman-temanku pergi ke perpustakaan untuk membaca buku. Kami selalu pergi ke perpustakaan saat istirahat pertama, dan memilih meja paling pojok di perpustakaan karena di sana meja paling sepi. Kalau meja paling berisik adalah meja yang paling depan, karena dekat pintu. Meja kami dekat jendela yang mengarah ke halaman sekolah, sehingga pemandangannya indah.
Tiba-tiba ada segerombol orang mendatangi meja kami. Salah satu di antaranya mendekati kami. Kami tidak menyadarinya sampai akhirnya Yume mendongak dan melihat ada seorang anak perempuan yang mendekati kami. Yume langsung mencolekku. Aku menoleh dan melihat anak itu.
“Eem, ada apa, ya? Kenapa kalian semua ke sini? Mejanya kan masih banyak,” Tanyaku heran.
Aneh juga melihat banyak meja kosong, tapi ada segerombol orang yang mendekati meja penuh. Aku memperhatikan wajah anak itu. Sepertinya kami pernah bertemu, deh, tapi di mana, ya?
“Mikan, kau tidak usah pura-pura tidak tahu, deh. Masa’ anak paling populer di sekolah, kau tidak kenal?” tanya gadis itu. Nada bicaranya sombong, dan dia berlogat Osakaben, bahasa Osaka.
“Eem, memangnya ada angin apa yang membuat nona Akari yan mulia ini sampai menghapus make up-nya dan merapikan rambutnya selayaknya anak normal?” tanyaku agak menggoda Akari.
“Eeeh, dia ini Akari? Serius tuh? Dari mana kamu tahu, Mikan?” tanya Natsu agak kaget, karena dia sendiri mngira gadis itu anak baru.
“Mudah saja mengetahui gadis ini Akari atau bukan.Akari itu nada bicaranya sombong, dan logatnya logat Osaka. Sorot matanya penuh ambisi, dan agak narsis. Buktinya dia mengaku paling populer di sekolah, padahal, dia paling populer hanya di dua angkatan, angkatan kita, dan adik kelas 4,” Jawabku santai. Wajah Akari langsung memerah.
“Kutantang kau Mikan! Aku ingin membuktikan siapa yang paling pintar, kau atau aku. Kita harus menunjukkan rapot kita masing-masing saat pembagian rapot. Aku juga ingin agar kita berdua sama-sama berdandan sebagai gadis biasa, dan tidak boleh ada make up sama sekali, sekalipun itu bedak,” Kata Akari geram.
Aku mempertimbangkan hal itu sebentar. Saat aku menatap Natsu, dia langsung menggelengkan kepala sambil melotot ke arahku. Artinya dia tidak mengizinkanku menerima tantangannya. Tetapi aku tersenyum dan menganggukkan kepala. Aku suka tantangan, maka dari itu, aku menoleh ke arah Akari dan mengangguk.
“Setuju, aku setuju. Bagiku mudah saja untuk berdandan seperti gadis biasa. Karena aku ini gadis biasa, apa kau lupa itu? Justru aku ragu kau bisa bertahan tanpa make up barang seminggu saja. Tapi tidak apa apa, aku ingin melihat seberapa lama kau bisa bertahan tanpa dandananmu itu,” Kataku sambil tersenyum.
Kulihat Akari langsung cemberut begitu mendengar sindiranku. Aku tersenyum puas karena berhasil memancing kemarahan Akari. Gadis itu langsung berbalik sambil mengibaskan rambut panjangnya yang keriting. Setelah Akari dan para ajudannya pergi, Natsu langsung memarahiku habis-habisan. Yume dan Haruhi masih terkejut melihat bagaimana aku mengalahkan Akari dalam adu mulut yang sangat singkat.
“Kau ini apa-apaan sih, Mikan? Sudah tahu tugasku melindungimu, kau masih saja menerimanya. Sudah kularang kau masih nekad juga! Memang keterlaluan, kau ini. Apa kata ibu begitu mengetahuinya? Bagaimana jika kau kalah? Kau kan tahu Akari itu berpengaruh di sekolah kita ini, seharusnya kau menolaknya! Kalau begini kan tugasku untuk melindu…” sebelum Natsu menyelesaikan kalimatnya lagi aku langsung memotongnya.
“Iya, kakek, aku mengerti, tapi biarkanlah sekali-sekali aku menerima tantangan, jangan kau terus. Aku sudah bukan anak bayi lagi, kak, lagipula, asal aku terus belajar, dan asal kakak mau mengajarkanku, kemungkinannya bisa bertambah dari 50% aku menang, menjadi 60% aku menang,” Jawabku senang.
“Kalau aku tidak mau mengajarimu, bagaimana?” tanya Natsu.
“Memangnya, kau mau, adikmu tersayang ini kalah? Harga dirimu bisa jatuh, lho! Nanti orang sekolah menggosip seperti ini: ‘Eh, masa’ ya, katanya Mikan Aozora kalah dengan Akari Suzune hanya karena kakaknya yang jenius itu tidak mau mengajari, lho!’” kataku sambil meniru cara tante tetangga sebelah menggosip.
“Iya, benar! Lalu temannya akan menjawab seperti ini: ‘Wah, benar, tuh, bu. Saking pelitnya, dia sampai tidak mau membagi ilmu kepada adiknya! Sekalipun dia adik kembarnya! Memalukan sekali!’” lanjut Yume ikut menirukan tante-tante tetangga yang hobi menggosip. Kemudian kami berdua tertawa ala tante-tante yang bunyinya bukan ‘hahaha’, tapi ‘hohoho’ dengan nada tinggi melengking.
“Oke, baiklah, aku mau mengajarimu, tapi awas saja jika kau kalah darinya,” kata Natsu menyerah.
“Yess!” bisikku dan Yume bersamaan. Kami memang sangat sebal terhadap Akari, karena dia sok, dan centil.
Tak lama kemudian kami kembali ke kelas. Di kelas aku menemukan secarik kertas lagi di laci mejaku. Aku membacanya, bunyinya begini:
Mikan, aku tahu, kau sebenarnya takut, kan? Kau tidak usah mengelak, kau tidak bisa melakukan apapun tanpa kakakmu itu, kan? Aku yakin kau bahkan akan takut jika aku menantangmu. Aku menantangmu, minggu depan, hari Rabu, temui aku di belakang sekolah. Jangan membawa siapapun termasuk kakakmu. Kalau kau tidak datang akan lebih banyak masalah yang menimpamu.
Makin aneh saja, isi surat ini, aku makin heran, apa-apaan, sih, pengirim surat ini. Esoknya aku mendapat surat yang sama. Surat itu bertuliskan angka, angka sebelum hari Rabu minggu depan, esoknya aku menerimanya lagi, esoknya juga, esoknya lagi juga. Sampai akhirnya hari Rabu seminggu setelah surat ancaman tersebut, aku menemukan surat itu lagi. Ternyata surat itu untuk mengingatkanku agar datang ke belakang sekolah pulang sekolah nanti.
Setelah bel pulang berbunyi, aku tidak langsung pulang. Aku menyuruh kakakku pulang duluan, karena aku harus pergi ke belakang sekolah, dan karena aku memang harus piket. Hari itu memang giliranku piket. Setelah piket, aku cepat-cepat pergi ke belakang sekolah. Di sana ada beberapa orang. Aku heran, kenapa sudah sore masih ada orang? Dan yang lebih mengherankan lagi, salah satunya membawa gunting.
“Oh, jadi kau daang juga, ya, Mikan Aozora,” Kata salah satunya denggan nada mengejek.
Lalu dia menganggukkan kepala kepada temannya dan temannya itu mulai mendekatiku. Aku tidak melakukan apapun karena dia perempuan. Tetapi saat dia menggenggam tanganku, aku mulai panik.
“Tunggu, apa-apaan, ini?’ jeritku panik.
Anak itu menarik tanganku yang satunya, menahanku, lalu menarik rambutku yang pajang sesiku. Anak yang membawa gunting mendekatiku.
“Rambut yang indah,” katanya,”sayang, harus dipotong,” Kemudian dia menarik rambutku dan memotongnya sampai sebahu.
“TIDAAK! JANGAN!” jeritku. Terlambat, dia sudah memotong rambutku.
Tiba-tiba saja aku menangis. Setelah temannya melepaskanku aku langsung berlari ke lapangan parkir sepeda. Aku langsung memakai jaket dan mengayuh sepedaku pulang ke rumah sambil menangis. Saat sampai di rumah aku tidak memarkirkan sepedaku.
Aku melompat turun dari sepeda dan langsung masuk dan menutup pintu dengan keras. Natsu yang sedang menonton TV sampai melompat karena kaget. Dia langsung bangun dan mengejarku ke kamar. Dia mengintipku dari pintu dan melihat bahwa rambutku pendek. Diam-diam Natsu menyelinap pergi dengan sepedaku ke toko aksesoris yang berada tak jauh dari rumah.
Natsu membeli sebuah bandana yang berbentuk seperti sapu tangan putih yang diikat sampai berbentuk seperti dua helai daun. Setelah membayarnya, Natsu pulang ke rumah dengan kecepatan tinggi. Dia memarkirkan sepedaku dengan rapi. Saat membuka pintu, aku sudah mendahuluinya membuka pintu.
“Eh, Mikan, sedang apa kau?” tanyanya padaku dengan wajah heran sekaligus kaget.
“Justru aku yang harusya bertanya padamu, dari mana saja kau?” tanyaku dengan tatapan serius. Natsu menatap rambutku yang sudah kurapihkan dengan heran. Kemudian dia tersenyum.
“Masuklah, ada sesuatu yang ingin kuberikan padamu,” Katanya sambil mendorongku masuk. Aku masuk dan menghempaskan diri ke sofa yang empuk sambil menghela nafas.
“Ada apa?” tanya Natsu padaku.
“Tidak, tidak apa-apa, hanya saja, hariku sangat berat hari ini,” Kataku dengan wajah suram.
“Jangan begitu, rambut pendek cocok untukmu kok,” Kata Natsu sambil berjalan ke dapur. Tak lama kemudian dia datang sambil membawa coklat panas.
“Benarkah? Apa kau tidak bercanda?” tanyaku sambil agak tersipu. Tiba-tiba Natsu mengeluarkan sesuatu dari kantong plastik yang sejak tadi dibawanya.
“Ini, aku mau memberimu ini,” Kata Natsu sambil memberi bandana sepeti daun berwarna putih kepadaku.
“Waah! Lucunya!” seruku girang.
“Aku tahu itu akan membuatmu makin seperti jeruk, karena wajahmu bulat, dan ditambah itu membuatmu seperti memiliki daun,” Kata Natsu sambil tersenyum.
Esoknya aku pergi ke sekolah seperti biasanya. Hanya saja aku memakai bandana dari Natsu. Saat sampai di sekolah Yume langsung menanyaiku kenapa aku memotong rambutku. Aku hanya menjawab karena gerah. Saat masuk kelas ada anak yang sengaja menabrakku sampai buku yang kubawa jatuh.
“Aduh! Hei, kalau jalan lihat-lihat, dong!” seruku sambil membereskan bukuku yang berserakan.
“Oh, maaf, aku tidak melihatmu,” Kata anak itu.
Aku terkejut melihat siapa yang menabrakku, dan lebih terkejut lagi, dia membantuku membereskan bukuku. Dia adalah Suzune Amasaki, salah satu ajudan Akari. Dia terlihat juga terkejut melihatku dengan rambut pendek. Saat makan siang, Suzune datang ke bewah pohon tempat kami makan siang. Kami yang sedang makan siang dengan tenang, terkejut melihatnya datang.
“Kenapa kau di sini? Kenapa tidak bersama Akari dkk?” tanya Haruhi bingung.
Lebih bingung lagi karena dia tidak membawa pesan atau apapun, melainkan bekal makanan yang terbungkus rapi.
“Apa boleh, aku makan bersama kalian? Aku sudah tidak tahan dengan sikap Akari yang semena-mena, aku ingin menjadi teman kalian,” Katanya sambil tersenyum kepada kami.
“Ti…” kata Natsu, tapi sebelum menyelesaikan kalimatnya, aku sudah mendahuluinya.
“Oh, boleh, silahkan kalau kau mau makan siang dengan kami, kami senang pendatang baru, benar kan Yume?” kataku senang. Saat Natsu hendak memprotes, aku mencubitnya sehingga tidak jadi.
“Oh, ya, itu benar, kami suka pendatang baru,” Kata Yume menyambut perkataanku dengan nada ceria. Yume langsung mencubit Haruhi saat hendak memprotes juga.
Kemudia Suzune duduk di dekat kami, lalu dia makan siang sambil bercerita tentang pengalamannya diperbudak oleh Akari, disuruh melakukan beberapa hal yang sebenarnya tidak disukainya.Kami mendengarkan sambil sesekali tertawa karena ternyata Akari permintaannya terkadang sulit sekali.
Semuanya sempurna sampai tiba-tiba Akari muncul di hadapan kami. Wajahnya merah karena marah.
“Mikan! Apa yang kau lakukan tehadap Suzune, hah? Suzune! Kenapa kau mau bersamanya?” jerit Akari dipenuhi kemarahan. Suzune langsung melompat berdiri dan menahan Akari.
“Aku yang meminta akan bersama mereka, Akari, bukan Mikan yang memintaku. Aku sudah bosan denganmu, aku bosan disuruh-suruh terus olehmu, aku ingin bebas, aku tidak ingin terus menjadi budakmu,” Kata Suzune.
Akari terkejut mendengarnya. Tiba-tiba dia menangis lalu lari menjauh dari kami.
“Kau agak berlebihan, sebenarnya,” Kata Natsu sambil menatap Akari pergi.
Esoknya, kami belajar bersama di rumahku. Natsu menjadi gurunya, dan kami menjadi muridnya. Natsu menjelaskan panjang lebar sementara kami mendengarkan dengan sungguh-sungguh.
Beberapa bulan kemudian, dimulailah ujian tengah semester. Kami belajar dengan sangat keras, dan ekstra keras bagiku, karena pada hari ketiga class meeting sesudah ujian yang menentukan, kami bertukar rapor. Hari pertama lancar, hari kedua juga lancar, hari ketiga lancar juga, hari keempat dan hari terakhir juga lancar. Dari semua mata pelajaran, yag membuatku cukup pusing hanya matematika dan bahasa inggris.
Hari yang dinantipun tiba. Hari kedua class meeting, nilai kami dibagikan. Mengejutkan melihat nilaiku seri dengan Natsu dan Suzune.Hampir semua 100. Semuanya sempurna, sampai saat makan malam ayahku dan ibuku membicarakan sesuatu yang sangat tidak kuharapkan.
Ayahku akan dinas ke Tokyo. Natsu ikut dengan ayah, sementara ibu dan aku tetap di Hokkaido. Aku sangat terkejut sampai mau menangis. Kenapa harus sekarang? Tanyaku dalam hati. Natsu akan berangkat minggu depan, berarti dia masih bisa melindungku selama seminggu.
Esoknya setelah pembagian rapot kami pulang. Aku meminta Natsu untuk menungguku di depan gerbang. Aku tidak mau berpisah dengannya sampai dia pergi ke Tokyo. Saat menemui Akari di belakang sekolah. Akari berada di sana bersama Suzune dan beberapa anak buahnya.
“Suzune? Kenapa kau di sini?” tanyaku heran melihat Suzune di sana bersama Akari.
“Aku masih memiliki sebuah janji yang belum aku tepati kepadanya, yaitu menjadi wasit untuk hari ini. Aku idak memihak kepada siapapun, karena aku datang hanya untuk menepati janji. Janji harus ditepati, bukan?” kata Suzune. Tanpa kusadari Natsu melihat kami sambil bersandar ke tembok gedung.
“Siap, keluarkan rapot kalian, tunggu sampai aku memberi aba-aba, SEKARANG!!!” seru Suzune. Kami saling menunjukkan rapot masing-masing. Suzune menelusuri nilai kami dengan teliti.
“Yak, setelah diteliti, pemenangnya adalah Mikan! Selamat!” seru Suzune setelah meneliti rapot kami.
“Tunggu, ini tidak adil!” jerit Akari, “kenapa harus dia yan menang?” Akari dipenuhi kemarahan. Bagaimana tidak, dia dikalahkan olehku lagi.
“Akari, nilaimu memang jatuh belakangan ini,” kata Suzune,” dan rapotmu memang jauh di bawah Mikan,”
“Baiklah kalau begitu, tapi, aku tidak akan membiarkanmu pergi begitu saja, Mikan, aku akan memberimu sebuah kenangan buruk bagaimanapun caranya!” teriak Akari. Dia mengambil sapu yang bersandar di dinding dan mengayunkannya di atas kepala sapu iu melayang ke araku.
“KAKAAAAK!!!” jeritku memanggil Natsu.
Aku menunggu saat sapu itu mengenaiku dengan menyakitan, tapi tak ada yang mengenaiku. Saat aku membuka mata, ternyata… kakakku! Dia menyelamatkanku! Dan, Suzune! Dia juga menahan Akari! Setelah berhasil menenangkan Akari, Natsu menasihatinya agar tidak melakukannya lagi, kepada siapapun juga.
Beberapa hari setelahnya, sudah waktunya bagi Nastu untuk pergi. Aku dan teman-temanku mengantarnya sampai bandara. Kami memberikan kenang-kenangan kepada Natsu. Aku memberikan foto saat kami di pantai liburan musim panas yang lalu. Tak lama kemudian pesawat yang akan membawa Natsu akan berangkat. Aku memeluknya sambil menangis. Saat pesawatnya lepas landas aku berteriak.
“NATSU!!! CEPATLAH KEMBALI!!!” terikku meskipun aku tahu dia tidak akan mendengarku.
“Aku pasi akan kembali, Mikan,” Bisik Natsu dari dalam pesawat.
Beberapa tahun telah berlalu. Aku baru akan masuk SMP. Aku berkomunikasi dengan Natsu lewat surat, sms, dan telepon. Kami tidak pernah berkirim foto, karena dengan menelepon saja sudah bisa melepas rindu.
Kemarin, aku mendapat kabar darinya bahwa masa dinas ayah sudah habis. Itu artinya dia akan pulang.
Dia akan diberi kamar yang berbeda denganku, karena menurut ibu kami sudah terlalu besar untuk tinggal di satu kamar yang sama. Saat aku melihat daftar murid, aku melihat ada nama Natsu Aozora tepat setelah nomor absenku. Kami ada di satu kelas, di kelas 7-D, dan bangku yang bersebelahan.
Saat aku mencari kelasku, tanpa sengaja aku menabrak anak laki-laki yang dari postur tubuhnya kuperkirakan adalah kakak kelas. Aku langsung kehilangan keseimbangan dan jatuh.
“Ah, maaf, kau tidak apa-apa? Kau murid baru, ya? Kebetulan sekali, aku juga baru masuk,” Kata anak itu.Aku merasa kenal suara itu.
“Oh, tidak apa-apa, kok, tapi, apa kita pernah bertemu? Rasanya aku mengenalmu, deh,” Kataku mengamati wajahnya, dia juga agak terkejut melihatku. Aku menarik kaca matanya sampai lepas, dan aku tidak bisa mempercayai siapa yang kulihat.
“NATSU!! KAU NATSU, KAN?” jeritku tidak percaya. Untung saat itu tidak ada orang.
“Mikan?Apa benar, itu kau? Kau sudah besar, ya!” kata Natsu sambil tersenyum. Air mataku tiba-tiba mengalir dan aku langsung memeluknya.
“Oh, Natsu, kemana saja kau selama ini? Aku merindukanmu!” isakku.
“Tapi aku sudah kembali, kan? Aku juga merindukanmu, Mikan,” Katanya kepadaku, “ayo, kita cari kelas kita bersama-sama!”
Lalu kami pergi mencari kelas kami sambil bergandengan tangan. Semenjak hari itu aku manjalani hariku seperi dulu, saat ayah belum dinas.
THANKS FOR READING!


Tidak ada komentar:
Posting Komentar