04 Oktober 2012

PERMAINAN


“Dalam permainan, bermainlah dengan sungguh-sungguh, tetapi permainan jangan dipersungguh. Barang siapa mempermainkan permainan akan dipermainkan oleh permainan itu sendiri”

Homo ludens. Manusia adalah makhluk bermain. Sudah menjadi kodratnya, manusia sejak dia lahir sampai akhir hayatnya tidak akan terlepas dari permainan. Bahkan dalam bekerjapun sebenarnya mereka sedang melakukan sebuah permainan. Didalam permainan, hasil atau prestasi bukanlah tujuan utama. Tujuan utama dari permainan adalah permainan itu sendiri sehingga tidak akan timbul beban apakah seseorang akan menjadi pemenang atau pecundang. Kesungguhan dalam bermain itulah yang dicari untuk mendapatkan keasyikan batin. Ya. Keasyikan batin berbeda dengan kepuasan batin. Keasyikan batin adalah ketika alam pikiran  larut dalam setiap menit, setiap detik dari peran yang sedang dijalankan. Bagaimana  mengatur strategi, merencanakan, mencari kesempatan, mengantisipasi, menyerang, bertahan, menjebak dan memperoleh kemenangan. Tetapi bukanlah kemenangan itu sendiri sebetulnya yang dituju. Bermain.. itulah tujuannya.

Namun ketika permainan itu dipersungguh, maka bukan lagi bagaimana seharusnya sebuah permainan dilakoni. Yang menjadi target adalah kemenangan atau hasil permainan itu sendiri. Pemahamannya seperti tidak lagi peduli dengan hakekat permainan itu sendiri. Yang terpikir hanyalah bagaimana caranya memenangkan permainan meski dengan cara apapun. Perencanaan dan strategi adalah bagaimana caranya memperdaya aturan main. Mencari celah-celah titik lemah yang bisa ditembus untuk melakukan upaya pemenangan. Mereka tidak lagi perduli dengan permainan apakah itu dan bagaimana seharusnya permainan itu dilakukan. Saat kalahpun dicarinya celah-celah aturan main yang bisa dipakai alasan untuk menolak kekalahan.

Siap menang tidak siap kalah. Ketiadaan “balanced mind setting” membuat otak menjadi miring dalam pengertian totalitas pada ambisi tanpa memperdulikan resiko-resiko hasil permainan alias tidak siap mental. Apapun hasilnya, apakah itu kemenangan atau kekalahan dalam mempersungguh permainan pasti akan menjadi bumerang bagi diri sendiri karena yang diperoleh adalah kekosongan makna. Hanya hasil-hasil yang bersifat materi, tetapi tidak kepada hasil-hasil yang bersifat yang lebih maknawi yaitu pengakuan dan apresiasi jujur  yang dapat menggerakkan hati, jiwa dan pikiran  pemilikmya untuk bermain lebih baik lagi, lebih baik lagi, lebih baik lagi.



Si Joss
New Land, 13 April 2009

Tidak ada komentar:

DUH.... AKU LUPA RINDUKU TERGURAT DIMANA

Ku guratkan rinduku pada setangkai bunga Lalu kubiarkan saja disitu di taman sunyiku Mekar semerbak harum kuntum demi kuntum Masih saja k...