Malam itu,ada seraut wajah yang termangu
menatap potret buram para perempuan
yang tertidur lelap karena lelah
setelah seharian bersimbah peluh sendiri
dan malamnya bersimbah peluh lelaki
malam merangkak menghampiri gelapnya
namun nasib enggan beringsut
terperangkap diantara dinding-dinding
tebal dan tinggi
yang membuat dunia sangat kecil
sekecil bilik dapur dan ranjang tidur
Wajah yang termangu…
wajah yang termangu itu kian terharu
air matanya pelan mengalir
menjelma menjadi tinta
dan mata hatinya adalah mata pena
yang mengabarkan kepada dunia
Bahwa di bumi pertiwi ini,
duka nestapa berserakan di mana-mana
kedunguan adalah budaya
penjara bukanlah tembok tebal dan jeruji besi
tetapi hati dan pikiran
yang terbelenggu
“Duuh…….”
getar bibir di wajah itu
berbisik getir
Si Joss
Kebagusan, 21 April 2009
Tidak ada komentar:
Posting Komentar