04 Oktober 2012

RESENSI BUKU : TOTTO CHAN’S CHILDREN




"Betapa berharganya setetes air, secuil makanan dan sebutir obat bagi mereka di sana. Betapa beruntungnya kita di sini.   Betapa bersyukurnya kita disini, sekaligus betapa malunya kita karena terlalu sering mengeluh atas hal-hal yang sepele padahal  bagi mereka itu adalah suatu yang sangat mewah super istimewa  yang tak pernah terbayangkan dalam pikiran mereka disana. Sementara mereka tidak pernah mengeluh atas hal-hal yang sangat luar biasa sengsaranya yang tak pernah terbayangkan oleh pikiran kita disini."

Buku Totto Chan’s Children. Ketika belum membaca buku ini aku berpikiran untuk membuat notes di FB dengan meng-quote beberapa paragraph yang kalimatnya menarik, tetapi aku telah salah sangka. Didalam buku ini tidak ada satupun kalimat yang lebih menyentuh dari kalimat lainnya. Setiap kalimat, setiap alinea, setiap lembar bahkan setiap babnya semua sangat-sangat menyentuh hati. Bukan cuma menyentuh hati, kalau aku bilang buku ini telah mencubit hatiku.

Buku Totto Chan’s Children . Mungkin kita berpikir akan seperti buku Totto Chan sebelumnya yang meneruskan cerita tentang anak-anak lucu yang bersekolah di gerbong kereta lengkap dengan suka dukanya. Totto Chan’s Children tak lebih dari catatan perjalanan seorang artis yang diangkat menjadi Duta Kemanusiaan UNICEF yang bernama Tetsuko Kuronayagi alias Totto Chan. Perjalanan dalam rentang waktu antara tahun 1984 sampai 1996 mengunjungi negara-negara “sejuta duka nestapa” seperti Tanzania, Nigeria, India, Mozambik Kamboja, Vietnam, Irak, Etiopia, Sudan, Rwanda bahkan sampai Haiti.

Membaca bab-bab awal perjalanan Tetsuko Kuroyanagi ke Tanzania aku membayangkan suasana seperti film “God must be crazy”,  landscape Afrika dengan matahari terbenam berwarna merah melatar belakangi  silhuete jerapah, gajah, singa  dan binatang-binatang lain nan eksotis. Anak-anak kulit hitam hanya berpakaian cawat kumal berlari gesit memburu binatang dengan panah sederhana atau mengendap-endap digerumbul semak membidik buruan dengan sumpit panjangnya.  Atau mereka sedang menggali tanah dengan tangan kosong mencari umbi-umbian yang bisa dimakan atau diperas airnya.

Bayanganku langsung buyar tatkala Miss Kuroyanagi bertutur kisah tentang tentang anak-anak yang seumur hidupnya belum pernah melihat binatang-binatang symbol eksotime Afrika seperti gajah, zebra, jerapah. Sehingga ketika disuruh menggambar binatang mereka malah menggambar panci, ember dan sebangsanya. Ada yang menggambar binatang, tetapi itu gambar seekor lalat diujung kertas gambarnya.  Tetapi itu hanya sekedar ilustrasi menarik dari sekumpulan ceritanya. Fokus  kisah perjalanan ini justru kepada cerita tentang anak yang sekarat kekurangan makan,  kekurangan air atau segala rupa penyakit orang miskin seperti kolera, tetanus, diare, koreng dll. Bahkan kematian demi kematian .

“Miss Kuroyanagi, saat anda kembali ke Jepang, ada satu hal yang saya ingin Anda ingat: orang dewasa meninggal sambil mengerang, mengeluhkan rasa sakit mereka, tapi anak-anak hanya diam. Mereka mati dalam kebisuan, dibawah daun-daun pisang, memercayai kita orang-orang dewasa”   Kata-kata ini – yang diucapkan kepala suku desa kecil tak bernamadi Tanzania itu – juga terus mengusikku.

Di India, Tetsuko mendapati anak-anak yang sekarat terserang tetanus. Aku tidak ingin komentar banyak tentang India. Kutipan sepotong alinea berikut aku rasa cukup mewakili :

“Anak itu berusaha keras mengatakan sesuatu. Saat itulah aku melihat ternyata bukan hanya kaki dan tangannya yang kaku, tapi juga yang lain, termasuk bibir, lidah, pita suara dan rahangnya. Meskipun demikian anak itu mengerahkan seluruh kemampuannya dan berhasil mengatakan sesuatu. Aku bertanya pada perawat apa yang dikatakan anak itu. Perawat memberitahuku bahwa anak itu, yang tampak sekarat, berkata padaku, “Aku berdoa untuk kebahagiaanmu”. Aku kehabisan kata.”

Di Mozambik, Negara yang porak poranda karena perang saudara oleh pemberontak yang  didukung pemerintah Afrika Selatan. Afrika Selatan waktu itu (1987) masih dikuasai kaum kulit putih yang melakukan diskriminasi warna kulit - apartheid (tentunya sekarang sudah tidak lagi),  ingin menancapkan hegemoni apartheidnya ke negara-negara tetangganya termasuk Mozambik. Banyak anak-anak mati atau cacat sebagai korban perang. Yatim piatu disana sini. Pengungsi mengungsi di tengah teriknya gurun yang tandus berjalan berpuluh-puluh kilo meter. Binatang ternak bahkan anak-anak mati dalam perjalanan. Dalam kunjungannya ke Negara ini, Miss Kuroyanagi menceritakan kisah mengharukan tentang seorang ibu yang luar biasa.

IBU LUAR BIASA
Sering kali pengungsi diasumsikan sebagai orang-orang yang lari mencari perlindungan dengan menyeberang perbatasan dari satu Negara ke Negara lain. Tapi di Mozambik jutaan pengungsi yang tersebar di seluruh wilayah Negara itu mencari perlindungan, masih di dalam Negara mereka sendiri, dari tentara gerilya.
Karena begitu banyak orang di kamp, kita mungkin berpikir akan lebih logis jika para pengungsi menanam sendiri tanaman pangan daripada tergantung pada ransum. Namun, karena ancaman serangan dari tentara gerilya yang terus terjadi di kamp-kamp itu dan besarnya kemungkinan mereka harus meninggalkan kamp sewaktu-waktu, bercocok tanam tak mungkin dilakukan.
Tapi bahkan dalam kondisi seperti ini, ada beberapa kisah mengharukan yang kudengar.
“Kau punya berapa anak?” aku bertanya pada seorang ibu yang sedang menyusui bayinya.
“Sebentar, kuingat-ingat dulu. Delapan. Oh bukan, sepuluh!” jawabnya.
Apakah dia tidak bisa berhitung? Aku bertanya-tanya dalam hati, tapi ternyata bukan itu alasannya. Ia melanjutkan, “Aku punya lima anak kandung, tapi dalam perjalanan kesini, ketika melarikan diri dari tentara gerilya, aku melihat beberapa anak menangis karena kehilangan orang tua mereka. Jadi aku juga membawa mereka.”
Aku bertanya lagi.
“Jika aku member sepotong roti sekarang, kau akan membaginya jadi berapa?”
Ia menjawabku dengan segera.
“Sepuluh bagian, tentu saja.”
Rasanya aku ingin bertepuk tangan. Di Jepang, saat perang berlangsung, aku sering melihat ibu yang memberikan makanan (yang sulit sekali didapatkan) kepada anak-anaknya, tanpa memperhatikan kebutuhannya sendiri adalah hal yang biasa. Tapi jika seorang anak yang terpisah dari orang tuanya tampak kelaparan dan kebetulan berada di dekat situ, si ibu akan meminta maaf dan berkata, “Maaf, tapi anakku lapar sekali.” Si ibu takkan membagi makanan kepada orang asing yang kelaparan. Aku bisa memahami situasi semacam itu. Tapi untuk ibu Mozambik ini, yang berlaku bukanlah anak”ku” tapi anak “kita” – semua anak di negaranya.
Sebaik itulah mereka. AKu berharap perang saudara segera berakhir dan mereka bisa hidup dalam kebebasan dengan masa depan menjanjikan.

Perjalanan Miss Kuroyanagi alias Totto Chan berlanjut ke Negara-negara lainnya yang tak kalah menyedihkannya.  Dia mengunjungi Bangladesh, negara yang dua pertiga bagiannya sering terendam banjir. Ke Kambodia dan Vietnam menapak tilas saksi-saksi bisu korban perang seperti monument dengan sekumpulan tengkorak manusia, lobang-lobang pembantaian. Mengingatkan kita kepada Film “The Killing Field”.

Dia juga pergi ke Irak, Bosnia menjumpai anak-anak korban perang. Bertutur (meskipun tidak melihat sendiri peristiwanya) bagaimana sebuah boneka yang dipasangi bom meledak manghancurkan anak-anak tak berdosa. Tentang anak-anak yang dijadikan “tester” ranjau. Amat sangat mengerikan.  Sampai akhirnya Totto Chan berkunjung ke Haiti. Negara dengan sejuta masalah sosial dan kesedihan.

Namun kisah perjalanan Miss Kuroyanagi berlangsung dalam kurun waktu 1984 sampai dengan 1996 yang tetunya kalau dilihat kondisinya saat ini pasti sudah berubah jauh. Afrika Selatan dengan Nelson Mandelan sebagai symbol perjuangan sudah “merdeka”, bahkan sekarang mau menyelengarakan perhelatan akbar Piala Dunia. Para Negara tetangganyapun sudah merasa aman. Di Irak Saddam Husein sudah jatuh. Bosnia juga sudah tidak perang lagi. Vietnam sekarang sedang giat-giatnya membangun, bahkan dalam beberapa hal malah sudah lebih maju dari Indonesia.
Hiks….



Si Joss
Depok, 29 Maret 2010

Tidak ada komentar:

DUH.... AKU LUPA RINDUKU TERGURAT DIMANA

Ku guratkan rinduku pada setangkai bunga Lalu kubiarkan saja disitu di taman sunyiku Mekar semerbak harum kuntum demi kuntum Masih saja k...