Dari dulu saya selalu bilang bahwa tayangan TV yang paling saya suka adalah iklan.
Dan entah kenapa, pagi ini saya tiba-tiba teringat video clip iklan IBM awal tahun 90an. Seekor gajah dengan penuh kasih sayang dan sabar membimbing anaknya berjalan di daerah yang tandus dan terjal. Jingle (background music) iklan ini adalah potongan lagu "He ain't heavy he's my brother". Iklan yang menyentuh dan membuat saya suka sama lagu itu.
Lagu lama "He ain't heavy, he's my brother" buah karya Bobby Scott dan Bob Russel itu pas banget kalau dijadikan ilustrasi musik buat renungan berikut ini.
Seorang bocah kecil kurus kering, berjalan tersaruk-saruk di bawah guyuran rinai hujan yang dingin menusuk tulang. Baju dekil tidak terkancing, koyak sana sini. Celana kumal bersabuk tali rafia mengikat erat perutnya yang kecil lengket, tanda rindu pada makanan. Tulang iganya menonjol seolah ingin mewartakan kepada dunia bahwa disini ada seonggok kepedihan yang tak terperikan. Dia berjalan sambil menggendong adiknya yang lumpuh tak berdaya. Tampak berat dan melelahkan.
Seorang Bapak menyapa karena merasa iba :
"Kasihan sekali kamu nak... di usiamu sepagi ini hidupmu harus terbebani"
Diluar dugaan, bocah kecil itu menjawab :
"Oh tidak...!! Dia ini adikku. Dia bukan bebanku... Aku mencintainya... Aku akan menggendongnya kemana saja..."
Jawaban polos dan spontan, namun membuat sang Bapak tertunduk merenung. Si bocah kecil kurus tanpa disadari telah mengajarkan betapa beban menjadi bukan beban apabila ada cinta. Dan Allah telah menanamkan benih cinta ke dalam hati siapa saja yang dikehendakiNya. Ternyata di ladang hati anak kecil itu cinta telah tumbuh subur. Menjelma menjadi tenaga luar biasa dan memotivasi dirinya kepada suatu kesetiaan terhadap komitmen lantaran cinta. Yaitu komitmen untuk menjaga dan melindungi adiknya yang lumpuh.
Hati sang Bapak tadi mendadak kacau galau. Tersadar betapa selama ini dia tidak menyadari bahwa ada suatu penyebab yang dapat mengubah beban menjadi bukan beban. Yaitu cinta. Selama ini dia bekerja keras hanya untuk mendapatkan imbalan yang diinginkannya, bahkan kalau perlu bagaimana caranya mendapatkan imbalan tanpa harus bekerja keras. Didalam benaknya tidak mungkin seseorang melakukan suatu pekerjaan tanpa ada imbalan materi. Semua diukur berdasarkan jumlah materi yang diperoleh. Tak pernah terbayangkan sebelumnya bahwa ada sudut pandang lain, ada mindset yang berbeda sebagaimana telah diperlihatkan oleh anak kecil itu. Dia tidak pernah mengenal bahwa didalam kehidupan ini ada sebentuk energi dahsyat yang bernama cinta. Padahal cinta itu ada disekitarnya, bahkan berserakan dimana-mana. Kalau dia mengetahuinya.
Cinta dan kasih sayang membuat seorang ibu rela tidak tidur semalaman karena anaknya demam. Rela memandikan dan menceboki buah hatinya ketika masih kecil. Apakah dia mengharapkan imbalan? Tentu tidak.
Cinta dan kasih sayang mendorong seseorang mau berkorban merawat orang sakit atau menolong orang miskin.
Namun cinta tidak hadir begitu saja di relung hati seseorang. Allah meletakkan benih cinta itu supaya dirawat dan dipupuk dengan perbuatan-perbuatan tanpa pamrih yang menyuburkan cinta itu menjelma menjadi sesuatu yang dahsyat.
Puncak kedahsyatan semua cinta itu adalah cinta hamba kepada Sang Pencipta Matahari yang juga Pencipta Nyamuk. Kedahsyatan cinta dirasakan ketika seseorang telah berhasil memandang ibadah bukan sebagai beban. Seperti bocah kecil yang menggendong adiknya yang lumpuh itu.
#begituceritanya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar