30 Juni 2017

SAJAK PANTAI #2 (kulit tubuhnya hitam basah dan asin)

#1
pagi hari....
garis batas langit laut dan rona merah
ombak bergantian menggapai pantai
nelayan menyeret sampan ke tepian
kulit tubuhnya hitam  basah dan asin
oleh keringat bercampur air laut

istri dan anak-anak datang menyambut
ramai bercakap berucap syukur
banyak tangkapan kali ini ya
nelayan itupun tersenyum haru
ada rasa bangga mampir di relung dada
menatap hasil perjuangan berbulan-bulan
bergelut maut di garis batas langit laut

 namun rasa bangga itu hanya sejenak
lenyap seketika di hadapan para tengkulak
yang semena-mena mengganti kebanggaan itu
dengan lembaran tipis yang segera habis
untuk membayar utang riba


 #2
siang hari....
elang laut melengking di ketinggian
melesat dari balik rerimbunan hutan bakau
nelayan duduk diatas sampan menatap awan
sampan kosong tangannya juga kosong
elang laut menukik tajam menyambar
seekor ikan meronta tak berdaya
dibawanya terbang menuju sarang
paruh-paruh kecil menganga suka cita

 awan putih mengelabu menghitam
tirai panggung turun perlahan-lahan
menutup  satu episode  kehidupan
rinai hujan derai hati luruh runtuh
kendati wajahnya terlalu legam
untuk mengekspresikan suasana hati
namun bibir yang sempat tersenyum tadi pagi
tampak bergetar menggumamkan sebuah do'a

 duhai Robb... aku sambat kepadaMu
jangan kau hampakan lelah letihku
tak perlulah ikan sepenuh sampan
cukuplah seekor meronta tak berdaya
asalkan terbebas dari belenggu riba


 #3
malam hari.....
ujung gang sempit dan bau amis
rumah batako setengah jadi nan tak kunjung jadi
pertanda dulu ketika masih muda perkasa
pernah membangun cita-cita masa depan bahagia
namun terpaksa terhenti terpendam dalam hati
tertimbun tumpukan realitas hidup sehari-hari

beralaskan selembar baliho bekas kampanye
bergambar wajah calon bupati memakai peci
senyum berseri mengumbar sejuta janji
anak istri tidur meringkuk dirubung nyamuk
lentera tua sedari tadi padam kehabisan minyak

dengkur nafas, denging nyamuk, desir angin
debur ombak, debar hati, desah gelisah
adalah senandung kidung malam
mengiringi angan sang nelayan berkelana
sambil menyeret harapan kemana-mana
terbang menunggang angin kembara
menembus langit melintas cakrawala

 menemui Sang Pemilik elang laut
menemui Sang Pemilik ikan meronta
menemui Sang Pemilik garis batas langit laut
menemui Sang Pemilik dengkur anak istrinya

 Duhai Robb.. Ya Fattah... Ya Rozzaq..
malam ini aku haturkan segala puji do'a
dan istighfarku kepadaMu
dengan harapan sepenuh sampan.


 Si Joss Dermayu, 28 Juni 2017

Tidak ada komentar:

DUH.... AKU LUPA RINDUKU TERGURAT DIMANA

Ku guratkan rinduku pada setangkai bunga Lalu kubiarkan saja disitu di taman sunyiku Mekar semerbak harum kuntum demi kuntum Masih saja k...